Ini Alasan Data Center AI Ditolak Di Berbagai Negara

Lagi rame soal data center AI milik BDx Data Centers (Kampus CGK4) di Jatiluhur, Purwakarta, yang ditolak oleh warga sekitar. Penolakan semacam ini sebenarnya juga terjadi di berbagai negara. Tapi apa alasan sebenarnya?

Groundbreaking data center ini sempat dihadiri Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Namun kemudian Gubernur yang akrab disapa Demul itu menghentikan pembangunannya karena belum melengkapi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).

Terlepas dari kontroversi soal Demul yang hadir groundbreaking tanpa tahu proyek itu belum punya AMDAL dan PBG, data center AI memang mendapat penolakan di banyak negara.

BDx Data Centers direncanakan punya kapasitas awal 100 MW. Nantinya dalam perkembangannya, kapasitas ini akan meningkat hingga 640 MW. Kapasitas ini penting karena terkait dengan cara mendinginkannya.

Data center AI itu berbeda dengan data center biasa. Kerja ekstrem yang terjadi di dalamnya membuat data center AI menghasilkan panas yang luar biasa tinggi. Jika data center biasa bisa didinginkan dengan AC, data center AI nggak cukup. Dia perlu dialiri air dalam jumlah besar terus-menerus.

Bayangannya, untuk mendinginkan data center AI berkapasitas 1 Megawatt (MW), diperlukan 25,5 juta liter air per tahun. Dalam kapasitas puncaknya, BDx Data Centers memerlukan sekitar 384 liter air per detik dari Waduk Jatiluhur.

Masyarakat sekitar Jatiluhur jelas khawatir kalau keberadaan data center AI di area itu akan membuat pasokan air mereka terganggu. Padahal air dari Waduk Jatiluhur ini dipakai untuk bahan baku air Jakarta dan Jawa Barat. Selain itu, 80 persen debitnya digunakan untuk irigasi lahan pertanian.

Masalah berikutnya adalah soal kenyamanan warga di sekitar data center AI tersebut. Data center AI itu menghasilkan dengungan frekuensi rendah yang sering tidak terdeteksi pengukur desibel biasa. Jadi kalo diukur untuk mengetahui dampak lingkungan, bisa saja hasilnya lolos.

Frekuensi yang mereka hasilkan akan menggetarkan jendela dan dinding rumah sepanjang hari. Jadi berisiknya itu belum tentu dari kipas blower, chiller, atau evaporator yang mendinginkan GPU di dalamnya. Getarannya merambat ke jendela dan dinding, dan itu yang mengganggu.

Masalah berikutnya adalah pasokan listriknya. Dari mana BDx Data Centers mendapatkan listrik untuk site Jatiluhur ini? Apa pengaruhnya terhadap pasokan listrik Jawa-Bali?

Beberapa data center AI bahkan harus membangun sendiri generator listriknya. Pasokan dari perusahaan listrik tidak mampu menopang, sehingga mereka harus mandiri. Masalah tambahan lagi ini, karena akan menambah polusi suara di sekitaran Jatiluhur.

Lalu apa yang membuat Kang Dedi Mulyadi awalnya mendukung investasi data center AI ini?

Rupanya yang menjadi daya tarik utama adalah Rp 3,5 triliun total investasinya. Itu angka yang sangat besar untuk kelas kabupaten. Namun yang perlu diperhatikan adalah investasi sebesar itu bukan berarti serapan tenaga kerjanya besar.

Itu sebabnya data center AI itu lebih cocok di daerah industri berat. Sistem kelistrikannya memang dirancang untuk aktivitas berat. Berisiknya juga tidak mengganggu warga, paling beradu suara dengan industri di sekitarnya. Pertimbangannya paling soal air yang akan dipakai untuk mendinginkan sistemnya.

Saat ini BDx Data Centers masih berusaha melengkapi dokumen yang diperlukan agar pembangunan bisa dilanjutkan. Kita nantikan saja apakah dampaknya bisa mereka minimalisir agar tidak menimbulkan dampak apapun kepada warga sekitar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *