Pernah lihat iklan layanan internet yang mengklaim kecepatan internetnya 100 MBPS? Pernah coba apakah kecepatannya memang secepat itu? Ataukah itu hanya trik marketing untuk mengelabui pihak yang tidak paham kalau MBps dan Mbps itu berbeda?
Pada dasarnya, informatika mengenal konversi 1 byte setara dengan 8 bit. Satuan kecepatan internet adalah Mbps, alias mega-bit per second. Maka jika provider menulisnya 100 MBPS (mega-byte per second), artinya dia mengklaim kecepatannya 800 Mbps. Coba saja cek, apakah memang secepat itu?
Maka jangan mudah percaya dengan klaim marketing yang berusaha ambigu seperti itu. Karena dunia informatika punya aturan teknisnya sendiri dalam banyak hal, termasuk satuan transfer data.
Kecepatan internet selalu dihitung per bit karena jaringan internet bekerja secara serial. Mau lewat kabel atau wireless, data tetap ditransfer per bit. Itulah sebabnya sampai saat ini satuan kecepatan jaringan selalu dihitung bit per second (bps).
Sedangkan transfer data antar media penyimpanan biasa dilakukan per blok. Data-data yang akan dipindahkan itu dimasukkan dalam sebuah kotak berkapasitas 8 bit. Setiap blok ini kita hitung sebagai 1 byte, sehingga kecepatan transfernya byte per second (Bps).
Bisakah kecepatan internet memakai satuan MBps?
Jawabannya tentu saja bisa, kalau memang klaimnya sesuai. Kalau kecepatan aslinya cuma 10 Mbps ya jangan ditulis 10 MBPS. Alasannya tentu saja agar tidak membohongi publik. Berdasarkan hitungan yang kita punya, 10 Mbps artinya hanya 1,25 MBps.
Ketika ditegur oleh orang IT, biasanya penyedia layanan internet berkilah satuannya jadi MBPS itu karena materi iklannya memang huruf besar semua. Tapi bagi saya, itu tidak boleh dilakukan dengan alasan apapun. Satuan dalam informatika punya aturannya sendiri, dan berpengaruh signifikan.
Jadi selama praktik ini masih dilakukan, kita sebagai konsumen yang harus pintar dalam memilah. Kalo sejak awal saja sudah ada itikat tidak baik, masa iya ke depannya tidak akan ada masalah serupa?