Dipelajari, Tapi Sebenarnya Nggak Diperlukan

Saat mulai masuk mata kuliah terkait basis data, sebenarnya anak informatika itu belajar 4 hal. Mereka akan belajar menulis data, membacanya, mengubah isinya, dan menghapusnya. Tapi sebenarnya nggak semuanya itu diperlukan dalam dunia nyata, karena ada undang-undang yang membatasinya.

UU No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) memberi wewenang pada aparat penegak hukum untuk meminta data elektronik dari penyelenggara sistem elektronik sebagai bagian dari penyelidikan atau penegakan hukum.

Aturan ini mengatur agar Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) bisa memberikan data yang diperlukan untuk mendukung penyelidikan. Bahkan jika pengguna sudah menekan tombol hapus, data tersebut tetap harus bisa tersedia untuk penegak hukum.

Maka yang terjadi saat kamu menghapus post di Instagram, pihak Meta nggak beneran menghapusnya dari server. Post itu hanya disembunyikan dari publik, termasuk kamu sebagai pemiliknya. Nanti saat pihak kepolisian membutuhkan, Meta harus bisa memberikan data post yang kamu hapus itu.

Atau saat kamu sadar post kamu di X kontroversial, kamu memutuskan untuk mengeditnya untuk menyamarkan kesalahanmu. Pihak kepolisian tetap bisa meminta X untuk menyerahkan post aslinya sebelum kamu edit.

Lalu bagaimana bisa kedua hal ini terjadi?

Idenya sederhana, hanya menggunakan fungsi menambah dan update data. Setiap post memiliki post_id sebagai identitas resminya. Sedangkan index datanya di basis data menggunakan auto increment (angka yang dibuat otomatis oleh sistem).

Ketika membuat post pertama kali, basis data akan membuat baris baru dan memberinya post_id. Ternyata kamu ada salah ketik, maka diedit lah itu post. Sistem akan mengubah status post lama di basis data jadi nonaktif, lalu membuat baris data baru dengan post_id yang sama dengan baris lamanya, statusnya aktif.

Kamu akhirnya menyadari post ini bedampak negatif dan menghapusnya. Sistemnya akan melakukan hal yang sama dengan saat kamu edit. Dia hanya menonaktifkan baris terakhir itu.

Saat kamu membuka list post, sistem akan mengumpulkan semua baris post kamu di basis data yang statusnya aktif. Makanya post yang dihapus tidak tampil, karena semua post_id tersebut barisnya nonaktif. Padahal datanya ada, nggak dihapus.

Tapi ini contoh sederhana kalo di blog atau pengelolaan data sederhana ya. Konsepnya memang mirip, tetapi secara teknis akan lebih rumit di sistem yang lebih kompleks. Misalnya saja di e-commerce, yang akan melibatkan banyak tabel kalau ada perubahan di detail produknya, atau di transaksinya.

Belum lagi di sistem seperti aplikasi chat. Secara teori mungkin sangat mirip dengan blog, hanya saja ada sistem enkripsinya. Biasanya pengelola aplikasi hanya memberikan data dari basis data saja. Sedangkan kunci enkripsinya tetap dirahasiakan, sehingga tidak berguna juga sebenarnya.

Serba salah memang, mau kuncinya diberikan nanti mempengaruhi reputasi aplikasinya. Tetapi jika tidak diberikan akan membuat perusahaan bermasalah karena dianggap menghalangi penyidikan.

Karena kondisi inilah kebanyakan kasus yang melibatkan sistem chat, polisi harus menyita ponsel pelakunya. Daripada tidak bisa memeriksa chat karena nggak punya kunci enkripsi, lebih baik mengamankan chat yang ada di ponselnya.

Nah, kamu masih merasa perlu belajar edit dan delete data dari basis data nggak?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *