Alasan Saya Pilih Kuliah Informatika

Kalo orang lain kan biasanya masuk informatika karena mau jadi programmer. Tapi saya punya alasan lain yang mungkin agak absurd. Ternyata setelah masuk, banyak juga mahasiswa lain kala itu yang masuk informatika karena alasan serupa.

Sebenarnya sejak awal memang sudah aneh aja jalannya. Bisa-bisanya nggak suka matematika, fisika, dan kimia, tapi memilih penjurusan IPA. Semua gara-gara doktrin kalo anak IPA itu lebih hebat dibanding IPS. Padahal ya nggak juga, adik mamaku anak IPS bisa tuh jadi direktur utama pabrik kertas terkenal.

Dari semua pelajaran IPA itu, saya paling menghindari matematika sebenarnya. Maka dari semua opsi di Fakultas Teknik, saya berpikir bahwa Teknik Informatika ya isinya ngetik coding. Nggak ada tuh dalam pikiran saya ada matematika di sana.

Ternyata jalannya nggak semudah itu kawan!

Teknik Informatika ternyata punya banyak mata kuliah wajib matematika. Ada kalkulus I, kalkulus II, matematika diskrit. Sialnya, mata kuliah paling jadi momok itu jadi syarat untuk mata kuliah lain. Untaiannya itu terbentang dari semester 1 sampai 8. Jadi nggak lulus 1 kali saja, artinya kamu akan telat lulus 1 semester.

Disclaimer dulu, itu list mata kuliah Teknik Informatika di Universitas Surabaya (UBAYA) untuk angkatan 2005 ya. Kalo kemudian berubah ya nggak tau lagi.

Belakangan saya mulai paham maksud belajar matematika di awal perkuliahan itu. Bukan untuk mempersulit, justru mempermudah langkah berikutnya. Penekanan materinya ada pada logika dalam menyelesaikan soal, bukan bagaimana menghafal rumusnya.

Toh di setiap ujian sudah diberi lembar rumus, hanya tidak ditulis saja itu rumus apa. Apalagi sampai ditulis itu rumus untuk soal yang mana, jangan harap ada!

Misalnya kita diminta menghitung volume limas segi empat (piramida) dengan alas persegi. Panjang sisi perseginya 10 cm dan tinggi juga 10 cm. Di lembar rumusnya ada rumus umum volume yaitu luas alas dikali tinggi.

Tapi jangan langsung dipakai mentah-mentah. Rumus itu berlaku jika luas bagian bawah dan atas sama. Jadi jika dipakai langsung, hasilnya adalah volume kubus, bukan limas segi empat. Di situlah logika berjalan kalo lupa rumus volume limas.

Caranya adalah menentukan titik tengah baloknya. Jika dari titik itu ditarik garis ke setiap sudut kubus, hasilnya akan membentuk 6 limas dari setiap sisi kubusnya. Dari sini kita sudah dapat kalao volume sebuah limas itu adalah seperenam dari volume kubusnya. Tapi ini kalau tingginya separuh dari kubus itu.

Nah, supaya dapat volume limas setinggi kubus, kalikan rumus itu dengan 2. Maka rumusnya menjadi seperti ini.

Vlimas = 1/31/3 x sisi x sisi x tinggi

Ketemu deh rumus volume limas. Dari rumus ini kita bisa dapat volume limasnya 333,3 cm3.

Sialnya memang saya harus mengulang masing-masing sekali untuk kalkulus 1 dan kalkulus 2. Dasarnya memang sudah nggak suka matematika, mau gimana juga tetap saja akan kesulitan. Untungnya selama kuliah saya bisa dengan mudah mengikuti materi pemrograman, jadi IPK setiap semester nggak terlalu buruk.

Setidaknya memilih opsi Teknik Informatika tidak terlalu buruk. Saya kalah di MIPA, tetapi pemrograman minimal dapat B dalam sekali coba. Saya suka ngoprek coding, suka mencoba membuat sesuatu, dan pastinya saya suka cara berpikir orang informatika.

Kalo kamu, sudah punya pilihan mau kuliah di mana?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *